Tag

Untuk kalimat ‘cinta tak harus memiliki’ sepertinya memang benar keberadaannya. Disaat kita mencintai seseorang dan membiarkan orang tersebut memilih menjalin hubungan dengannya, atas nama cinta pasti kita akan merelakannya. Dan itu terjadi dikehidupan gue. Kehidupan gue yang standar dan hampir ga punya masalah, tiba-tiba muncul hal seperti ini. Gue adalah sosok perempuan mandiri, yang menjalani hari hampir tanpa rintangan. Pergi ngampus, jaga lab, bermain bareng teman-teman seperjuangan itu biasa gue lakukan dengan hati penuh.

Hingga tiba saatnya, gue lupa tanggal berapa tapi yang pasti itu disaat hari terakhir UAS. Temen gue, sebut saja dia BABO, babo minta diantar mampir ke toko kaset drama korea yang berada disekitar kampus. Tidak, kami tidak hanya berdua, disitu ada juga orang yang paling berarti buat gue yaitu bubun. Karena bosan menunggu babo yang sibuk memilih Kdrama, akhirnya gue memutuskan untuk menghampiri bubun yang sedang ditempat fotocopy-an. Letaknya ga jauh, dengan 5 langkah juga gue udah langsung berada disamping bubun-ku. Karena tempat fotocopy-an saat itu penuh orang, gue berniat menyingkir keluar, tiba-tiba jalan gue kealingan sama sosok cowo tinggi, berjins dan berkaos coklat. Kalo kalian sering nonton sinetron-sinetron pasti taulah kondisi gue saat itu seperti apa. Merasa jalan gue kehalang, otomatis gue mendongak. Siapa si?. Dan yang pertama gue liat adalah wajah cueknya yang berhiaskan alis yang tebal. A! Mario Maurer?. Itu kalimat pertama yang terlintas dibenak gue. Tiba-tiba gue ngerasa dag dig dug, serba salah. Tapi dia hanya melintasi gue yang mematung saat itu. Gue berbalik dan ternyata dia berdiri tepat disamping gue. Yang bisa gue lakukan saat itu adalah diam. Mungkin ini kali ya yang dinamakan love at first sign.

Masih berdiam diri, bubun menghampiri. “kamu kenapa pito?” aku hanya bisa menggeleng. Cowo itu masih ditempatnya, ga beranjak sedikitpun. Dengan mengumpulkan keberanian gue mendongak untuk melihatnya sekali lagi. Kenapa mendongak? Karena dia sangat tinggi! Karena orang yang gue perhatikan lagi sibuk dengan handphonenya, gue jadi punya kesempatan lebih untuk terus memperhatikannya. Dari atas sampai kaki gak luput dari perhatian gue. Rambut model biasa lurus tapi rapi, alis tebal, mata tajam, kulit sawo matang, berkaos coklat, berjins, converse, dan bertas ransel. Dari deskripsi gue kalian pasti bisa menilai kalo dia adalah cowo biasa. Untuk ukuran fashion pun sangat standar. Tapi ga tau kenapa dia terlihat menarik dimata gue. Kalo mau lebaynya, dia itu bagaikan dikelilingi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip hahaha J .

Ah, fantasi gue segera lenyap begitu dia dan segerombolan kawannya pergi. Langsung saja gue menarik bubun. “bun liat cowo yang tadi?” Tanya gue.

“yang mana?”

“yang diri disebelahku, bubun kenal?”

“oooh, itu mah cowo yang aku suka dulu.” Jawaban bubun kena tepat disasaran. “kenapa neng?”

“rasanya.. aku..”

“suka yaaaa?” goda bubun. “sekarang aku udah ga suka lagi kok, aku relain ke kamu.”

Mendengar jawaban bubun yang seperti itu ngebuat gue lega. “makasi bubun, bias perkenalkan kami?” pint ague ke bubun.

“kenalin? Wong aku aja ga kenal juga toh. Aku dulu cuma suka aja pitooo”.

Aaah bubun ternyata ga mengenalnya juga.

Dari kejadian itu gue jadi selalu keingetan dia. Sampai akhirnya pacar temen gue bilang…

“elo suka sama dia? Dia kan madesu tau.”

“oya? Biarin.” Gue jawab kaya gitu karena gue memang bener-bener menyukainya. mungkin gue akan jadi fans fanatiknya kalo dia menjadi artis nanti.

“kalo ga salah dia udah punya cewe deh. Coba aja buka FB nya.”

Pernyataan ‘udah punya cewe’ langsung menghujam jantung gue. Deg! Sesek rasanya.

Sepulangnya gue langsung go online, buka www.facebook.com tapi loading lama banget. Sekalinya kebuka gue harus masukin email plus passwordnya. Dan menunggu loadingnya lagi. Menyebalkan!

Home FB kebuka, gue langsung search nama cowo itu, sebelumnya dikampus pacar temen gue itu kasih tau nama dari cowo yang gue taksir. Langsung gue ketik perhurufnya, begitu terbuka dengan harap-harap cemas gue membaca disetiap infonya. In relationship! Ya! Benar-benar. Pupus harapan gue. Tapi ga tau kenapa tangan gue malah menekan tombol add friend. Mungkin bawaan hati hah hah hah *tawa getir* gue buka juga profil cewenya, sepertinya mereka udah berhubungan dari SMA, kalo diitung kasarnya berarti mereka udah 3 tahunan pacarannya. Aaah makin lemes gue. Hati mendadak ciut.

Karena gue ga sekelas dan kelas anak ekonomi gak disatu gedung, itu membuat gue sedikit teralihkan dari sosok dia. Sampai, kamis jam makan siang.

“pito itu maurer 2 mu” teriak bubun.

“mana?!”

Benar saja dia lagi jalan terburu-buru sendiri. Melewati gue.

“bun, bagaimana?”

Makan siang gue jadi ga enak, kebayang mukanya tadi. Oia, dia gue kasih julukan ‘Mario Maurer 2’, kenapa? Karena dia sangat mirip dengan Mario Maurer yang asli. Tapi si Babo bilang kalo dia ga ada mirip-miripnya. Menyebalkan!

Tanggal berganti, minggu pun berganti. Dan tiba saatnya hari kamis, hari yang sebenarnya agak gue tunggu-tunggu, soalnya Cuma dihari ini gue bisa ketemu dia. Kejadian dikamis ini, sangat menyesakkan.

“pito! Tuh dia lagi jalan sama temennya”. Tunjuk temen gue yang biasa dibilang haramoni. Yup! Dia memang berjalan didepan gue, gak jauh dari gue. Dia dan temannya berjalan menghampiri arah gue berjalan. Sambil menarik napas gue menetapkan langkah yakin. Satu.. dua.. dan tiga.. gue berpapasan dengannya. Kami benar-benar berpapasan. Tapi karena gue ga punya nyali untuk menyapanya jadi gue hanya berjalan sambil menunduk. Bodoh benar gue!. Sedangkan haramoni berhenti dibelakang gue dan berbincang sedikit dengan temannya (teman sekelas gue juga waktu kelas satu). Karena temannya berhenti, maurer 2 gue juga berhenti, nungguin. Dan apa yang terjadi dengan gue? Gue hanya bias memandang dan memperhatikannya dari jarak kurang lebih 15 meteran. Dia ga berubah, style sederhananya yang bikin gue kepincut. Berkemejakan hitam polos, dia benar-benar terlihat menakjubkan. Sedikit puas untuk hari ini Karena gue bisa sedikit lebih lama memandang dia.

Tapi ga tau kenapa air mata gue menetes. Gue malu. Malu sama diri sendiri. Kenapa bisa-bisanya menyimpan rasa suka sebegini dalamnya sama orang yang ga gue kenal dan telah berstatuskan milik orang lain.  Setengah dari pendapat temen-temen gue adalah, lupain dia, cari yang lain, dia udah punya cewe, kalo gue jadi cewenya gue ga bakal mau cowo gue dikenal-kenalin ke cewe lain. Itulah pendapat mereka. Pendapat mereka bikin gue mikir, mungkin gue dikirim untuk menguji hubungan mereka berdua. Sebelum terjadi lebih baik gue yang ngalah, seenggaknya karena gue dan dia belum saling mengenal. Gue yakin karma itu ada dan gue ga mau karma itu berbalik menyerang gue. Mungkin memang ga semudah itu melepas rasa seperti ini. Apalagi setelah setahunan gue terlalu cuek sama yang namanya makhluk pria. Gue akan coba, gue akan coba menerapkan kalimat ‘cinta tidak harus memiliki’. ‘kalo memang jodohnya dia pasti akan ke elo’ itulah yang sering bubun bilang ke gue. Dan gue sangat berterimakasih banget karena udah memiliki temen-temen kalian, yang mengingatkan gue ketika gue hampir merusak hubungan orang lain.

Mungkin ada sebagian yang menganggap kalimat tersebut hanyalah omong kosong belaka, kalimat sampahan atau semacamnya tapi ketika hal itu terjadi pada diri kalian sendiri, yakinlah kalimat itu benar-benar nyata adanya.

Special thanks to “9 line”