Tag

Cast: Dongho (U-KISS), Soohyun (U-KISS), Hoon (U-KISS), Eli (U-KISS)

Genre: Fantasi, romance

Author: PF Afrilliandrief

Based on U-KISS music video, 0330.

0 0 0 0

Suasana hutan cemara yang dingin membelai lembut kulitku. Aku masih berseragamkan sekolah berjalan menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Dengan hati bingung aku tetap melangkah mengikuti arah jalan ini. Aku berhenti berjalan ketika melihat sebuah piano klasik diujung jalan. Rupanya ini ujung jalannya. Batinku. Aku menghampiri piano klasik tersebut. Kupandangi langit. Warnanya aneh. Batinku. Kulihat jam ditangan, 03:30.

Aku mulai menekan toots piano tersebut.

“waw, suaranya masih bagus.” Kataku terkejut mendengar hasil suaranya yang masih nyaring. Aku terus menekan toots tersebut, menjadikannya sebuah irama. Tiba-tiba ada sebuah tangan putih yang turut serta menekan tootsnya. Serentak aku menoleh, tampak seorang wanita berambut pendek duduk disebelahku, ia memakai dress putih yang berkilau.

“ah, kau rupanya.” Kataku begitu tau ternyata dia adalah Min.

Gerimis mulai turun tetapi aku dan min terus memainkan nada-nada tersebut. Min menghilang begitu saja ketika dengan tiba-tiba suara Eli memanggil-manggil namaku.

“dongho-ya, dongho-ya. Bangun, kita harus sekolah.”

Aku segera terbangun. Aku bermimpi. Batinku.

0 0 0 0

Aku menghabiskan waktu sekolahku dengan perasaan lesu.

“kemana min, apa dia sakit?” tanyaku pada diri sendiri.

“hei, Dongho. Nanti sebelum pulang kita karaokean dulu ya.” Ajak Eli.

“waaa asik asik, sudah lama kita ga karaokean.” Sambut hoon senang.

“maaf, aku ga bisa ikut kalian.” Kataku menyesal. “aku sudah berjanji akan menemui Min.”

“mwo? Min-ah? Bukannya dia..aa..” kalimat Hoon terputus karena dengan tiba-tiba Soohyun menutup mulut Hoon rapat-rapat.

“gak papa dongho-ya. Kau pulang saja duluan.” Kata Soohyun.

Aku, Hoon, Eli dan Soohyun memang tinggal satu rumah. Sejak kami bertemu disekolah ini kami memutuskan untuk tinggal di satu rumah yang sama. Karena kami berasal dari daerah yang berbeda-beda, untuk menghemat uang kosan lebih baik kami patungan dan tinggal di satu rumah.

Aku segera meninggalkan sekolah. Tak sabar rasanya untuk bertemu dengan wanita yang kusuka.

Tes.. tes..!

“ah hujan rupanya.” Aku segera berlari menuju halte bis. Tanpa disangka ternyata Min sedang duduk dihalte bis itu. “hei Min, kenapa kau tadi ga masuk?”

Min hanya menggeleng. Kulihat ia agak basah kuyup. Dengan segera aku mengambil handuk kecil yang selalu ada ditasku. “ini.. pakai ini.” Kataku sambil menyerahkan handuk tersebut.

Bis belum datang juga. Kulihat Min mengusapkan kedua tangannya. “apa kamu kedinginan?” tanyaku. Min hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaanku.

“ayo kita cari cup noodle.” Ajakku. Spontan aku menarik tangan Min. sekarang hujan telah berubah menjadi gerimis, sambil berlari kecil kami menerobos gerimis tersebut.

Kami segera masuk ke sebuah toko yang pertama kali kami jumpai. Tanpa bertanya pada Min, aku segera memesan 2 cup noodle.

Min tersenyum padaku. “untuk menghangatkan tubuhmu sebelum pulang.” Jelasku.

Aku menoleh melihat ke sekeliling toko. “aah itu kan Eli.” Kataku. Tapi Eli hanya membuang muka begitu melihatku. Kenapa Eli?. Tanyaku.

“sebelum pulang kita bermain piano dulu ya, mau?” ajakku pada Min. dan tanpa menjawab Min mengiyakan ajakanku.

Kami memainkan sebuah lagu, kami tertawa bersama tepatnya aku yang tertawa dan bagaimana dengan Min? dia hanya tersenyum, senyum yang tulus sambil memandangku.

Setelah gerimis benar-benar reda, kami berpisah di halte bis. Min pergi duluan. Aku masih berdiri di halte memperhatikan sampai bisnya tidak terlihat lagi.

0 0 0 0

Rumah..

“aaah aku pulang teman-temaaaan.” Kataku ceria.

“dari mana saja kau?!” bentak Eli. Tersirat nada marah di kalimatnya.

“aku abis bertemu sama Min, kami bermain piano hari ini. Hei Eli-ya kau kan tadi ada ditoko yang sama dengan kami.” Kataku pada Eli.

“kau ini benar-benar..” Eli kehabisan kata-kata.

“kau ini kenapa si?” tanyaku yang tak mengerti. Dengan emosi Eli meninggalkanku.

Aku memutuskan untuk mandi dan makan siang. “aaah kenapa aku bisa secepat ini merindukan Min.” kesalku pada diri sendiri.

“hei Soohyun.”

“kenapa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

“kau pernah tidak merasakan rindu seperti aku sekarang?” tanyaku pada soohyun, tapi soohyun hanya melihatku dengan tatapan sedih. “hei hei hei.” kataku membuyarkan pandangannya. “jangan melihatku dengan tatapan seperti itu.”

“aah, maaf.” Katanya dan segera bangkit meninggalkan aku. Ada apa dengan orang-orang ini si?.

Kuputuskan untuk menelpon Min, kuputar nomernya. Dan tiba-tiba Eli datang dengan marah dan merampas handphone dari tanganku.

“hei, apa-apaan kau ini?” tanyaku terkejut melihat apa yang dilakukan Eli.

“hentikan, hentikaaaan!” Eli berteriak. Soohyun mencoba menenangkan Eli, sedangkan Hoon mencoba melindungiku.

“apanya yang dihentikan hah?! Aku Cuma mau menelpon Min, apa itu salah?!” semburku tak kalah marah.

“salah! Jelas itu sangat salah!” teriaknya lagi. “Dongho-ya, sadarlah kau, bukalah matamu. Min sudah tiada sekarang, dia sudah ga ada sekarang!” nadanya berubah melembut.

“dongho-ya sadarlah sekarang.” Ucap Soohyun mengikuti perkataan Eli.

“siapa yang sudah mati hah?! Min?! aku baru saja menemuinya dihalte bis, kami makan bersama bermain piano bersama bahkan aku mengantarnya sampai naik bis. Dia adaaa.” Aku mulai terisak.

“dia sudah meninggal dongho-ya.” Jelas Eli sekali lagi. “aku melihatmu ketika kau pulang sekolah, kau tersenyum-senyum sendiri, ketika kau makan cup noodle kau hanya berbicara sendiri, dan ketika kau bermain piano kau juga bermain dan tertawa-tawa sendiri. Kau seperti orang gila dan aku muak melihatmu selalu seperti itu!”

“aku tertawa bersama Min!” bentakku.

“dia ga ada! Kalau kau ga percaya aku merekamnya. Lihat kalau ga percaya!” Bentak Eli semakin jadi. Dengan penuh emosi Eli menunjukkan rekaman videonya kepadaku. Disitu terekam ketika aku makan cup noodle dan bermain piano sambil tertawa. Dan benar yang dikatakan Eli, semua itu aku lakukan sendirian, makan sendirian bermain sendiri dan tertawa sendirian tanpa Min disebelahku. Air mataku mulai mengalir, tersadar menghadapi kenyataan yang ada. Min memang benar sudah tiada.

“bagaimana hah?!” Tanya Eli yang mencoba meredamkan emosinya. “kumohon, berhentilah bertingkah seolah-olah Min sedang bersamamu. Aku tidak tahan melihatmu. Aku menyayangimu teman.” Ucap Eli sambil memegang pundakku erat.

“dongho-ya, kau sudah sadar kan?” Tanya Hoon lembut.

Aku hanya bisa mengangguk sambil menatap video itu. Semua terdiam, suasana mendadak hening yang terdengar hanyak napas tersengal-nya Eli dan juga isak tangisku. Min memang benar-benar tiada sekarang. Aku kehilangan wanita yang kusukai itu 6 bulan yang lalu. Saat itu kami sedang menunggu bis bersama, bersama dengan Soohyun, Hoon dan juga Eli. Tiba-tiba seekor anjing kecil yang lucu mengelus-eluskan tubuhnya dikakiku.

“aah ada anjing kecil.” Kataku yang terkejut.

“dongho-ya jangan bergerak.” Perintah Min saat itu. Dia segera mengambil anak anjing itu, dibelainya anjing itu dengan wajah ceria. Dia memang sangat menyukai anjing. Tapi tiba-tiba anjing itu melepaskan diri dari pegangan Min dan berlari ketengah jalan. Min segera mengejarnya. Tiba-tiba saja bis yang kami tunggu datang dan segera menabrak tubuh mungil Min. Kejadiannya sangat cepat.  Min terlempar beberapa Meter. “Min-aaaaaah!” teriakku. Aku segera berlari dan mendapatkan tubuh Min yang berlumuran darah segar. Soohyun, Hoon dan Eli segera menolongku membawanya kerumah sakit. Dan dihari itulah aku kehilangan Min untuk selamanya.

Melihat hasil rekaman inilah aku baru menyadari kenyataan yang sebenarnya. Karena merasa terpukul aku selalu mengharapkan Min ada disisiku sehingga menimbulkan halusinasi. “terimakasih min, terimakasih teman-teman, aku rela melepasnya sekarang.” Kalimat itulah yang berhasil keluar dari mulutku pertama kali.

“maafkan aku, aku hanya ingin yang terbaik untukmu.” Kata Eli.

Kami berpelukan, tanda saling memaafkan dan berterima kasih.

0 0 0 0

Malam..

Aku ditempat yang sama, di hutan yang sama dan dijalan yang sama. Aku melihat piano yang sama. Kulihat jam ditangan. 03:30. Jam yang sama. Aah mimpi ini lagi. Batinku. Segera aku menghampiri dan memainkan piano itu dan dengan segera pula Min muncul disampingku. “Terimakasih telah menemaniku Min, walaupun hanya di pukul 03:30.” Kataku pada Min. Min tersenyum, kami tersenyum.

I can’t, I can’t touch you. I can’t bear the day without you
Can’t hold back the tears
again I can’t forget you. Till when will I be
like this

I still can’t erase you
Again and again I think of you
I miss you too much
I can’t sleep at night

The raindrops are knocking at my heart’s window
The place that you’ve left
I miss it too much
I can’t sleep at night

(U-KISS – 0330)

FIN