Tag

Cast : Park Bom (2NE1), Yoon Si Yoon

Author : PF. Afrilliandrief

Genre : Romantic

Based on You and I music video (Park Bom)

 ——–

Park Bom Pov

Teng.. teng.. teng..

Bunyi lonceng menggema keseluruh pelosok gereja. aku berdiri mengenakan gaun putih indah nan panjang, dengan menggenggam sebuket mawar merah yang harum. Dihadapanku berdiri seorang pria gagah lengkap dengan setelan tuxedonya. Kami berdiri di altar gereja dengan didampingi seorang pastor.  Pastor telah menyatakan kami resmi sebagai sepasang pengantin. Dengan senyum terkembang Si Yoon mulai membuka wedding veltku. Tapi tiba-tiba Si Yoon-ku berubah menjadi sesosok bocah laki-laki yang dengan wajah nakalnya sibuk menjambak-jambak rambut coklatku.

“ahjumma! Berikan aku ice cream-nya!” rengek bocah itu. Splash! Fantasiku lenyap.

“aaa, iya iya. Tunggu sebentar bocah kecil.” Sautku sambil melepaskan rambutku dari genggamannya. “nah, ini milikmu.”

“terimakasih ahjumma.”

Aku hanya bisa menghela napas sambil melihat bocah itu yang kian jauh berlari.

“kenapa? Melamun lagi?” Tanya sahabatku, dara. “pernikahan lagi?” tebaknya.

“hoo.” Sekenaku.

“aish, dasar kau ini.” Ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.

“hei! Berantakan tau.” Protesku. “dara, aku ijin pulang cepat, boleh?”

“heeeii, apa yang mau kau lakukan? Tumben kau mau pulang cepat ini masih jam jaga tau.”

“please, kumohon.” Ratapku. Aku memohon dengan mengeluarkan jurus maut, tatapan mata seperti cat in the boots.

“ya baiklah aku ijinkan, asalkan kau besok kesini tepat waktu.”

“oke oke oke! Jeongmal gomawo. Dah dara.” Kataku sambil memeluknya.

——–

Yoon Si Yoon Pov

Aku terduduk di ranjang yang warnanya serasi dengan piyamaku. Kubaca kalimat per kalimatnya dengan seksama. Mencoba menghayati apa yang dimaksudkan didalam ceritanya. Buku ini adalah milik kekasihku. Jam berapa sekarang?. Batinku. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku segera menyambutnya dengan senyuman terbaikku.

“annyeong haseyo oppa.” Kekasihku, Park Bom memberi salam. Dia sangat cantik, tidak hanya hari ini, tapi untuk setiap hari. Dia selalu cantik dimataku. “oppa?” tanyanya sambil melambaikan tangan didepan wajahku.

“a aa, masuklah.” Ucapku terkesiap. “bagaimana hari ini?”

“hari ini oke, tapi ada bocah laki-laki yang tiba-tiba menjambak rambutku.” Adunya.

“aah, kasian bomiku. Pasti sakit.” Ucapku sambil mengelus kepalanya.

“oppa, ayo kita bermain!” ajaknya.

“bermain apa? Kursi rodaku sedang diganti sama suster.”

Betul sekali, aku memang tidak bisa berjalan. Bukan tidak bisa, tapi belum bisa. Itu disebabkan kecelakaan mobil yang kualami tiga tahun yang lalu. Sebenarnya aku baru sadar beberapa bulan ini setelah hampir 2 tahun koma. Karena terlalu lama tidak sadar, otot-ototku susah digerakkan. Karena itulah aku menggunakan kursi rodaku.

“maaf ya, kita tidak bisa pergi keluar hari ini.” Sesalku.

“oh, gwaenchanayo oppa. Kita main PS aja. Oke?” ucapnya semangat.

“ya, ayo kita main.” Sambutku tak kalah semangat. Kami bermain dengan tawa yang tak berhenti. Seperti inilah Bomiku, dia selalu menemaniku, menyemangatiku dan menjagaku. Dia tidak pernah membiarkanku merasa bersalah walaupun hanya untuk sedikit.

——–

Other Pov

Kursi roda baru Si Yoon sudah datang. Mereka bersepakat untuk mengunjungi gereja kecil yang indah dekat rumah sakit. Si Yoon menggenggam erat tangan bomi. Mereka tersenyum dan larut dengan mimpi mereka masing-masing.

——-

Park Bom Pov

“aaaah lega rasanya setelah melihatnya senang hari ini.” Ucapku pada diri sendiri. Aku langsung menghentikan laju motorku ketika melewati pohon cemara kecil yang gemerlap didepan toko. “sebentar lagi hari natal.” Desisku. Berpikir sebentar dan aku segera berlalu dari toko itu. Dengan senyum terkembang aku memacu kecepatan motorku agar cepat sampai dirumah.

Rumah.

“aku pulang.”

“o, bagaimana kondisi Si Yoon?” Tanya Dara. Aku tinggal satu rumah dengan sahabat terbaikku.

“semakin membaik.” Jawabku sambil mencari-cari sesuatu.

“apa sih yang kamu cari?” Tanya dara yang penasaran melihatku mengobrak-abrik lemari buku.

“hmm, resep dara. Apa kau melihatnya?”

“ooh, kuletakkan didapur. Tadi aku habis membacanya.” Jawabnya.

“aah, syukurlah.” Jawabku lega. Satu per satu halaman ku buka. “ya! Cupcake aja.” Kataku dengan mata berbinar.

“sebaiknya, kau jangan membuat rumah ini menjadi seperti kapal pecah.” Ancam dara ketika mengetahui apa yang akan kulakukan.

“tidak satu rumah ini ko, setidaknya akan ada perubahan kecil pada dapurmu nanti, hehehe. Tinggalkan aku sekarang!” pintaku pada dara. Dan dia hanya bisa pergi sambil terus menggelengkan kepalanya.

Aku mulai membuat cupcake dengan panduan dari buku resep andalanku. Tepung dan telor mulai ku kocok jadi satu, wajahku tak lagi mulus karena saat ini warna putih tepung berhinggapan dimana-mana. Aku menghias cupcake-ku sambil membayangkan wajah oppa. Dia pasti akan senang. Batinku.

Satu jam berlalu, tiga cupcake cantik sudah tersaji didepan mata. “ya! Bomi Cupcake sudah jadiiiii..” teriakku.

———

Yoon Si Yoon Pov

“Hari ini tidak kalah menyenangkan dari hari kemarin, Bomiku pandai menciptakan suasana.” Kataku sambil tersenyum. Senyum ini tidak pernah lepas walaupun Bom sudah pulang dari satu jam yang lalu. Wajah, senyum dan tawa Bom yang khas masih memutar dikepalaku.

“tapi, apa yang bisa kuberikan padanya?” ujarku ketika menyadari kondisiku sekarang. “aku cacat, Bomi sepantasnya mendapatkan yang lebih baik dari semua yang kumiliki.” Air mata mulai menetes. “apa sebaiknya aku sudahi semua ini sekarang?” pikirku begitu melihat tangga didepan mata. Aku mulai mengambil ancang-ancang. Kursi rodaku kukayuh begitu cepat agar aku bisa dengan cepat mengakhiri hidup dan kesusahan yang telah aku ciptakan untuk kekasihku. Semakin cepat kukayuh, semakin dekat pula tangga didepanku. Aku harus mati, aku harus mati. Dan… kursi rodaku sukses jatuh kebawah dari tangga yang tingginya kurang lebih 4 meter. Dan aku? Aku tergeletak dipinggir tangga. Lebih tepatnya menjatuhkan diri. Sebelum aku menjatuhkan diri ke lantai dasar, tiba-tiba wajah bom menghiasi otakku. Kalimat semangatnya tiba-tiba terngiang ditelingaku. Dia menyadarkan aku dari tindakan bodoh yang hampir selesai kulakukan. “gomawo bomi-ya, gomawo.” Kataku sambil tertawa sendiri.

Malam semakin larut, aku telah menghabiskan malamku di tepi tangga ini. Segera kucari tongkat untuk membantuku berjalan menuju kamar. Setelah sampai kamar aku melihat kekasihku yang sedang tidur dengan lelapnya. “pasti dia menungguku sampai ketiduran.” Simpulku.

Kupandangi dia, mengingat-ingat kenangan bersamanya. Aku segera membuka laci dan mengambil buku bersampul coklatku. “aku harus mengabadikan wajah bomi.” Kataku sambil mulai melukis garis wajahnya. “bomi, aku benar-benar mencintaimu.” Bisikku sambil terus melukisnya.

——–

Park Bom Pov

Aku dan oppa saling menggandeng tangan memandang bayi berbaju pink dikereta dorongnya yang manis. Rasanya sangat indah dan menyenangkan. Tapi tiba-tiba aku merasakan ada sepasang mata yang sejak tadi memandangku terus. Dan… aku segera terduduk. Rupanya aku bermimpi. Dan dimana ini? Aku mengedarkan pandanganku hingga akhirnya aku melihat oppa didepanku yang sedang memandangku lekat-lekat.

“oppa. Jangan melihatku seperti itu.” Ambekku. Tapi dia tidak bergeming dan hanya melihatku. Pandanganku teralihkan oleh buku yang tergeletak dimeja. “apa ini?” kataku penasaran sambil mengambil buku itu. Tapi tiba-tiba oppa menarik buku itu. “oppaaaa.”jeritku.

“jangan lihat bomi-ya, please.” Katanya sambil tetap berusaha mengambil bukunya. Tapi aku lebih kuat dan akhirnya aku mendapatkan buku itu. Dengan semangat membara kubuka buku oppa, “ini… wajahku..” kataku terperangah.

“maaf aku tidak meminta ijin.” Sesalnya.

“gwaenchana, aku sangat menyukainya.” Suasana mendadak hening. “oppa ayo ikut denganku.” Ajakku sambil memegang tangannya. “mana kursi rodamu?”

“a..aa..aa..”

——–

Yoon Si Yoon Pov

“mana kursi rodamu?” Tanya bomi padaku.

Aku bingung harus menjawab apa “a..aa..aa..”

“tunggu sebentar aku akan ambilkan yang lain.” Katanya. Dan dia segera kembali dengan membawakanku sebuah kursi roda. “duduklah.”

“kita mau kemana?” tanyaku penasaran.

“kau akan mengetahuinya nanti.” Jawabnya. Dengan mata tertutup kursiku didorong ke suatu tempat. Yang bisa kurasa ditempat ini adalah udara semakin dingin dan angina semakin kencang.

“oppa, kau hanya boleh membuka matamu ketika aku bilang tiga. Oke?” perintahnya. Dan aku hanya mengangguk menyanggupi perintahnya. “satuu, duaaa, tigaa oppaaa buka matamuu.” Teriak Bom.

aku segera membuka mataku, pandanganku sedikit kabur karena terlalu lama ditutup. Aku menemukan bomiku yang sedang meloncat-loncat menghapus sesuatu. Seperti kaca hitam yang memunculkan cahaya begitu dihapusnya sedikit demi sedikit.

“bomi-ya, itu apa?” tanyaku berteriak.

“kau akan mengetahuinya nantiiii.” Jawabnya berteriak juga. Lapisan hitam dikaca itu semakin menghilang dan menghilang hingga menampilkan sebuah pohon cemara berhiaskan kerlap-kerlip lampu yang indah.

“ini.. ini pohon natal.” Kataku terpaku. Air mataku menetes melihat apa yang diberikan bom untukku. Aku sangat bersyukur memiliki Bom disampingku.

Dia berlari menghampiri memberikan pelukan hangat untukku. Tiba-tiba dia mengeluarkan beberapa cupcake lucu yang bertuliskan nama kami berdua. “merry Christmas oppa, aku ingin kau selalu berbahagia.” Ucapnya tulus.

“gomawo bomi-ya. Tetaplah bersamaku dan tunggulah aku.” Hanya kalimat itulah yang bisa kuucapkan padanya. Hari ini dia sudah terlalu banyak memberikan segalanya untukku. Akan tiba saatnya nanti giliran aku untuk membahagiakannya. Kami menghabiskan malam dibawah pohon natal cantik bomiku, dengan diselingi tawa, tawa kami yang semanis cupcake buatannya.

          FIN